Gawat! Coronavirus Pukul Pariwisata Indonesia

Gawat! Coronavirus Pukul Pariwisata Indonesia

Meskipun efek domino yang ditimbulkan sangat berdampak dalam kehidupan, terutama bidang pariwisata. Serta belum diketahui bagaimana cara mengatasinya.Pelaku usaha sudah mulai bergerak di sektor lain untuk menutupi berbagai kebutuhannya. Memang menjadi hal yang bersifat spekulatif, bila pihak yang terdampak mempunyai penghasilan sampingan sebagai pengganti mata pencaharian utama. Terkait virus corona yang begitu meresahkan, Indonesia menghentikan penerbangan ke China mulai Rabu, 5 Februari 2020. Hal ini adalah salah satu keputusan dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta pada Minggu, 2 Februari 2020. Lebih dari 2.000 hotel dan eight.000 restoran tutup dengan potensi hilang pendapatan Januari- April 2020 dari sektor hotel sekitar Rp30 triliun dan restoran Rp40 triliun.

Bagaimana keadaan pariwisata Indonesia

Sektor Pariwisata hingga saat ini masih menjadi sektor prioritas pemerintah karena dinilai mampu menjadi lokomotif pergerakan perekonomian bangsa. Pengelolaan sektor pariwisata pun terus dikembangkan oleh pemerintah, melalui berbagai kebijakan dilakukan pemerintah untuk membuat pariwisata Indonesia lebih maju dan dikenal di mata dunia. Memasuki akhir tahun 2019, dunia diguncang dengan pandemi Covid-19 hingga di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia yang sangat berdampak pada sektor perekonomian negara di dunia dalan sektor pariwisata.

Hal ini menyebabkan kehidupan perhotelan sangat menyedihkan karena banyak hotel yang diambil alih oleh pemerintah Jepang untuk dijadikan markas, rumah sakit, dan asrama serta sebagai tempat perwira-perwira Jepang. Di samping itu, ada aksi penghancuran jembatan-jembatan untuk menghalangi musuh masuk Daftar Situs Judi Slot Terpercaya 2021 ke suatu daerah. Sejarah pariwisata Indonesia juga mencatat pariwisata di Indonesia mengalami kemunduran sejak perang revolusi berkecamuk. Perang revolusi sangat berdampak tinggi bagi kemajuan pariwisata di Indonesia. Dapat dikatakan orang-orang tidak berkeinginan maupun bergairah untuk melakukan perjalanan.

Oleh karena itu Raja Gianyar dan Raja Karanagsem diperbolehkan oleh Belanda untuk mempertahankan kekuasaan mereka dengan syarat di bawah kendali Belanda. Dengan berakhirnya perang puputan, maka semua daerah di pulau Bali menjadi wilayah kekuasaan Belanda. Ketika Cornelius Houtman ingin meninggalkan pulau Bali, banyak dari krew kapal yang tidak ingin meninggalkan pulau Bali. Mereka sangat tertarik dan terpesona akan kemakmuran dan seni budaya orang Bali. Ketika Belanda kembali lagi ke Bali beberapa tahun selanjutnya, Belanda tidak lagi tertarik akan seni dan budaya yang dimiliki oleh orang Bali.

Belum lagi ditambah merosotnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aktfitas wisata. Photo by felfin05 evin on UnsplashMelemahnnya industri pariwisata akibat virus corona juga terjadi di Indonesia. Beberapa destinasi wisata seperti Bali, Yogyakarta, dan Lombok mengalami penurunan pengunjung yang cukup drastis.

Dalam penjelasannya pada sixteen April 2020, Presiden menegaskan akan merealokasi anggaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ke program padat karya bagi pekerja yang bergerak di bidang wisata. Selanjutnya, para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif akan diberi stimulus ekonomi agar bisa bertahan tidak terjadi PHK besar-besaran. Sedangkan intensif tambahan untuk membangun kepercayaan dan minat pasar sebesar Rp 70 M. Industri pariwisata merupakan sektor yang paling terdampak Pandemi Covid-19. Pendapatan negara dari sektor ini terbilang cukup besar di Indonesia karena memiliki berbagai potensi serta minat yang tinggi dari wisatawan mancanegara maupun domestik. Namun saat ini kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik mengalami penurunan secara signifikan.

Pariwisata merupakan sektor utama pembangunan nasional dengan target devisa sebesar US$ 20 miliar dan diharapkan mampu menciptakan 13 juta lapangan kerja di tahun 2019 dengan total kunjungan sebesar 18 juta wisatawan. Keberhasilan pembangunan pariwisata Indonesia menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan terutama kesuksesan nation branding dengan tagline “Wonderful Indonesia” telah mampu menempatkan Indonesia di posisi forty besar dunia. Ia membutuhkan kolaborasi antar dan lintas sektor agar keberlanjutan bisnis usahanya tetap berjalan. Maksimalkan peran dari lembaga di wilayah destinasi, seperti keterlibatan perangkat desa, pemerintah daerah, swasta , akademisi, dan media. Cobalah untuk menjalin kerja sama antarperusahaan, atau dikenal dengan konsep B2B , seperti misalnya layanan tiketing online, transaksi digital (e–money), jasa asuransi, maupun mannequin kerja sama lainnya. Adanya pandemi COVID-19 dan imbauan akan physical distancing ini bukan berarti membuat para pengelola destinasi wisata tidak melakukan apa-apa.

Comments are closed.